Kamis, 15 Januari 2015

GURU

     “Aku harus membawa cita-citaku pulang, Oa,” ucapku saat langkahku berusaha menyejajari langkahnya yang tergesa-gesa.
          “Percuma saja kau mendikte rincian cita-citamu yang segunung itu padaku. Kau tidak akan dapat ilmu soal cita-cita dariku, kau tahu?” Nada tenang namun sinis terlontar dari mulut Oa yang tak henti mengoceh. “Lupakan saja cita-citamu. Cari uang yang banyak,” lanjutnya.
          Uang? Apa pula ini? Tidak bisakah melakukan sesuatu tanpa benda edan yang satu ini?
          “Aku bersekolah mencari kepuasan, Oa. Uang tidak bisa menjadi pemuas!”
          Oa berhenti. Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. “Oh, begitu? Apa kau sadar, uang yang akan menyekolahkanmu? Bukan aku! Apa sekarang kau bisa katakan kalau uang tidak bisa menjadi pemuas?” Suara Oa meninggi. Lalu, dilanjutkannya ketika ia telah mengambil cukup nafas untuk mengomel lagi,” Memangnya kau bisa membuktikan padaku, secepat apa kau bisa membeli makanan dengan tumpukan kumpulan sajakmu yang tak laku-laku itu, heh? Apa kepuasan kau dapat saat kau kelaparan dan tak punya uang untuk membeli makanan? Dengar, kita bertahan hidup dengan uang, bukan dengan rangkaian kata-kata hiperbola macam sajak-sajakmu. Kau tak bisa berkoar-koar panjang membaca puisi di tengah laut tempatku bekerja lalu semua orang bertepuk tangan, dan mereka memberimu uang karena kau dianggap menghibur! Kau tidak sedang berada di dalam bar seperti yang ada di kota-kota besar! Tidak akan dan tidak pernah sama, Ata. Tidak segampang menjentikkan jari!” Ia kemudian mendengus, lalu kembali melangkah dengan irama secepat sebelumnya.
          Aku diam. Aku mengerti kenapa Oa menjadi sangat sensitif terhadapku, juga terhadap uang. Karena kami bernasib sama. Ya, kami budak uang. Tidak, tidak hanya kami. Aku butuh uang. Oa butuh uang. Hidup kami bermasalah jika tak ada uang. Bukankah orang lain juga begitu? Bukankah orang miskin juga begitu? Bahkan orang kaya bisa menginginkan lebih dari itu. Orang miskin perlu uang agar bisa mencukupi kebutuhan hidupnya, biar tak mati. Orang kaya juga masih memerlukan uang, ah, entah untuk apa. Sampai-sampai untuk mengejar ‘sang uang’ memerlukan banyak cara kotor yang tak masuk akal. Sekejam itukah uang hingga mampu mengacaukan nalar seseorang?
          Lupakan soal uang. Aku tak mau memperpanjang perdebatan sia-sia ini bukan hanya karena aku juga butuh uang seperti Oa. Tapi aku juga sangat ingin didengarkan, dan aku butuh cara untuk merealisasikan cita-citaku. Maaf, Oa. Hanya denganmu aku bisa berkeluh kesah hari ini. Tapi aku tak menyangka, responmu terlalu sulit untuk kuterima. Aku juga tak mengerti kenapa setiap orang yang marah memberikan penjelasan yang panjang lebar, dan dengan nada suara yang tinggi. Tak bisakah menyabarkan diri hanya untuk lima menit saja? Toh tempat kerjanya tak akan lari ke tengah laut, kalau alasannya ‘sudahlah, ngomongnya nanti saja. Aku mau pergi bekerja’. Lagipula, ia tak akan dihukum mati karena terlambat, kalau alasannya ‘aku sudah menghabiskan seperempat pagiku dengan membicarakan hal yang mubazir seperti ini, dan aku pasti terlambat’. Padahal ia hanya membuang setengah menit dari lima menit yang aku minta.
          “Aku sedang tidak bernafsu mendengar keluhan apapun. Jadi maaf, Ata. Mengeluhlah pada gurumu di sekolah. Aku rasa dia lebih mengerti,” ujarnya sinis. “Kalau saja pak RT tidak menyuruhmu bersekolah, aku tak akan menyekolahkanmu karena seperti tebakanku, sekolah malah membuatmu ketergantungan.”
          Apa? Ya Tuhan, sepicik itukah pemikirannya? Aku ingin membalas, mencoba menaikkan nada suara satu oktaf mungkin membuatku sedikit lega. Tapi ia bergegas pergi tanpa menoleh lagi. Baiklah, aku rasa aku berada di waktu yang salah. Hari ini bukanlah waktu yang tepat untuk berkeluh kesah pada si ceking Oa.
          Nama lengkapnya Samoa. Ya, hanya itu. Pantas saja, lelaki ceking itu selalu berpikiran pendek. Dengan kata lain, menggampangkan hal yang rumit. Untungnya ia tidak pernah memikirkan untuk mengembalikan nyawanya ke alam baka dengan cara yang pendek. Atau mendapatkan uang dengan jalan pintas. Aku tahu, ia seorang pekerja keras. Tetapi ia selalu bermasalah dengan uang. Bahkan uang senilai satu sen! Oa tidak pernah menghargai sebuah nilai keterampilan apa pun. Asal uang dalam genggamannya, entah dalam jumlah yang sedikit atau banyak, saat itu juga ia merasa dirinya bak raja yang dikelilingi sepuluh bidadari. Karena artinya, Oa bisa hidup tenang meski hanya untuk beberapa jam ke depan. Tidak akan kelaparan, dan bisa menghidupiku seperti biasa.
          Jadi, aku terpaksa pulang. Menunggu Oa kembali dari kehidupan lautnya di Kampung Apo, perkampungan nelayan. Ketika Oa kembali pukul tujuh malam, aku bungkam. Karena aku tahu, kalau aku mengoceh soal sekolah dan serentetan cita-citaku, seperti biasa, Oa pasti akan membalas nyinyir.

 ***
          Pak Nardiguruku, datang tepat pukul lima. Beliau membawa tas hitam lusuh kebanggaannya, dengan dua buah novel dan sebuah buku sajak yang sampulnya usang. Ah, pasti ia habis mengajar di pondoksebuah tempat perkumpulan anak-anak di bawah umur yang belajar sehabis bekerja. Memang beliau yang mendirikannya, setelah setengah mati menjamin kepada orang tua mereka kalau anak-anak itu tidak akan terganggu pekerjaannya. Namun anggotanya berkurang sedikit demi sedikit, karena orang tuanya berpikiran sama seperti Oa. Takut anak-anaknya akan ketergantungan pada buku-buku dan sekolah. Hal tersebut menjadi momok bagi pak Nardi. Saat seorang murid merengek meminta buku bergambar pada orang tuanya, orang tua murid yang lain langsung meminta anak-anak mereka mundur teratur. Sekarang, anggotanya berjumlah 5 orang tersisa, dari 25 orang enam bulan yang lalu. Ah ya, aku ‘alumni’ pondok tersebut.
          “Untukmu,” katanya ketika aku hendak bertanya. “Biar usang, yang penting masih bisa dibaca. Aku tahu kau pasti bosan dengan buku yang sudah-sudah.”
          Aku memekik girang dalam hati. Pikiranku melayang pada Oa. Ia tak pernah sekalipun menyisihkan sepersekian rupiah uangnya untuk membelikanku macam buku apapun di tukang buku bekas keliling. Aku benar-benar merasa dihargai ketika Pak Nardi memberinya. Meski aku selalu berharap buku itu adalah pemberian Oa.
          “Terima kasih banyak, Pak,” kataku sopan. “Karena Bapak, saya bisa menghibur diri sendiri sewaktu saya dihadapkan oleh kenyataan kalau saya…” aku diam menelan ludah. Rasa pahitnya menjalar sampai ke tenggorokan.
          “Saya mungkin tidak bisa melanjutkan sekolah. Kami kekurangan biaya.”
          Pak Nardi terlihat kecewa, namun cepat-cepat ditepisnya rasa kecewa itu dengan menghiburku. “Barangkali lain kali, Nak. Setelah kamu berpenghasilan seperti yang diinginkan ayahmu.”
          “Kata Oa, tidak ada lain kali, Pak. Tak ada besok, seminggu lagi, atau tahun ajaran baru bulan depan. Lagipula, kalau aku bekerja, aku masih perlu makan. Penghasilanku nanti hanya cukup untuk makan.”
          “Tapi kau pintar, Nak…”
          Hening. Kami kehabisan kata-kata untuk menjabarkan betapa aku sangat ingin melanjutkan sekolah. Kata Pak Nardi, aku terampil di dunia tulis menulis. Tapi sudahlah. Memang benar, tak akan pernah ada lain kali. Memangnya aku bisa melanjutkan saat aku umur berapa? Setelah aku berpenghasilan berapa? Tahun berapa? Semuanya hanya mimpi. Kata hanya itu selalu kugarisbawahi. Keyakinan akan sebuah mimpi tak akan bisa diubah jika fakta yang sesungguhnya tak pernah bisa diajak kompromi. Kenapa setiap orang diharuskan untuk memiliki mimpi kalau tak bisa dicapai? Apa artinya cita-cita untuk orang melarat sepertiku? Bagiku, cita-cita kini sudah tak ada artinya. Tinggal aku yang pintar-pintar memilih, karena hidup itu memang pilihan. Aku melanjutkan sekolah atau aku kelaparan. Semudah itu! Pilih A atau B, lalu habislah perkara. Tapi aku tak pernah tahan dengan resiko setiap pilihan yang kuambil. Ah, mendadak hidup menjadi sulit. Atau mungkin aku yang baru menyadarinya?
          Ketika Pak Nardi hendak pamit pulang, Oa datang dengan menenteng tas plastik hitam hasil membanting tulang di lautentah apa isinya. Aku sempat melihat mereka bertemu pandang. Dan Oadengan mulut pedasnya, melawan pandangan Pak Nardi dengan satu kalimat sinis,”Jangan hasut anakku dengan pelajaran tak bergunamu itu, Pak Guru. Kami tak punya uang. Bawalah kembali buku-buku itu bersamamu. Anakku tak butuh benda macam itu! Urus saja anakmu. Sekolahkan dia baik-baik, karena kau menginginkannya. Kita beda prinsip, dan aku tak bisa membiasakan diri dengan segala prinsip yang ada di kepalamu. Kau tahu, kami miskin. Kau tahu alasanku melarangnya untuk sekolah, bukan?”
          Aku terhenyak mendengar suara Oa tak selembut biasanya. Meski nada sinis masih kental kudengar, tapi suara Oa barusan bergetar seperti menahan tangis. Oh, tidak, tidak. Mungkin aku salah dengar.
          Aku melirik pak Nardi. Beliau tetap tenang. Mungkin sudah terbiasa menyaksikan reaksi orang tua murid mereka yang tak ingin anaknya mengenyam bangku sekolah. “Saya hanya mengajarkan bagaimana cara anak Anda berbicara, untuk tidak seperti ayahnya. Saya tidak pernah menghasut siapa pun, dan anak Anda tidak pernah merasa terhasut oleh saya. Ia punya kehidupan sendiri, Pak. Jadi jangan halangi anak Anda untuk menentukan pilihan hidupnya kelak. Dan buku-buku ini, tidak akan saya tarik kembali. Itu sepenuhnya hak milik anak Anda. Jangan pernah samakan hidup Anda yang Permisi.” Pak Nardi meninggalkan Oa yang emosi, dan aku yang kebingungan. Duh, Tuhan, apa lagi ceramah Oa yang harus aku dengarkan hari ini?
          Mereka memang mempunyai andil dalam kehidupanku. Pak Nardi yang memberiku wejangan-wejangan, sementara Oa, menafkahiku untuk tetap meneruskan sekolah hanya sampai saat ini. Tapi Oa tidak pernah merestui apa yang menjadi pilihanku. Mereka adalah guru, dan aku harus dan sangat menghormatinya.
          Ya, mereka masing-masing adalah seorang guru. Hanya saja, mereka adalah dua orang yang hanya berbeda profesi.
          Oa membuyarkan lamunanku dengan tepukan kecil di pundak. Suaranya melunak.
          “Jadi, kau hanya tinggal memilih, Nak. Kau tahu, hidup itu memang untuk memilih...” Kalimat Oa menggantung. Oa menghembuskan nafas panjang.
          Aku menunggu kalimat Oa selanjutnya. Apakah Oa sadar saat pak Nardi berkata demikian? Mungkin ini adalah saat yang kutunggu-tunggu. Oa akan sadar!
          “Mau aku kirim ke jermal, atau bekerja di toko Koh Apung. Aku tunggu jawabanmu besok pagi. Sekarang tidurlah.”
          Ucapan tenang Oa ternyata membuatku mati rasa.

~~000O000~~


catatan :
*jermal = tempat penangkapan ikan besar-besaran yang ada di tengah laut, biasanya mempekerjakan anak-anak di bawah umur.

Baca juga kumpulan cerpen karya Ni Galuh ginanti yang lain dalam Cerpen "Dia Sang Abstrak" dan Cerpen "LUCAS".

Senin, 12 Mei 2014

MENANTI KABAR AYAH

Aku duduk menantang angin malam, sendirian. Ini sudah malam ke-empat aku termangu di balkon rumahku, menunggu Ayah.

Ayahku pergi lima hari yang lalu kesuatu tempat di luar kota, dan dua hari setelah keberangkatan Ayah, terjadi gempa hebat yang meluluhlantahkan hampir seluruh daerah di kota kecil itu, kota tempat tujuan Ayah.
Hampir seluruh tetangga iba melihatku, anak laki-laki pincang berusia 10 tahun yang hampir sepekan ini menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu kabar kepastian sang ayah.
***
Pagi ini adalah hari kesembilan setelah berita kejadian gempa itu, namun aku belum mendapatkan kabar tentang Ayah. Setelah menyuapi ibu sarapan pagi, aku kembali melakukan ritual yang sudah lebih dari sepekan ini aku lakukan, memeluk lutut di balkon rumahku, tak sabar menanti kepastian kabar Ayah.
Setiap hari, jantungku berdetak berkali-kali lebih cepat jika mengingat betapa dahsyatnya gempa itu. “Apakah Ayah selamat? Atau….” Kalimat semacam itu yang selalu membanjiri hampir seluruh isi kepalaku. Lalu seutas doa terpanjat dalam hatiku, selalu, kemudian kuamini.

Kadang, tubuhku bercucuran keringat dingin, itu ketika aku mengingat masa-masa bersama Ayah. Aku gelisah. Mengapa aku belum juga mendapat kabar tentang Ayah? Lalu seperti biasa, sebait harapan kupanjatkan pada Yang Maha Kuasa.
Tiba-tiba ada keramaian yang membuyarkan lamunanku. Rangkaian kenangan tentang Ayah terurai seiring semakin kencangnya suara sirine ambulance.
Tepat di depan rumahku, sebuah mobil putih berhenti. Tiba-tiba jantungku berdetak sangat cepat, tak terkendali. Denyut nadiku tak berirama lagi. Tanganku gemetar, dan basah.
Sudah sembilan hari aku menunggu, dan akhirnya aku akan melihat lagi wajah Ayah. Aku yakin, sangat yakin bahwa Ayah ada didalam mobil putih itu.

Sambil mencoba mengatasi segala macam kekacauan yang kurasakan, aku setengah berlari menuruni jajaran anak-anak tangga yang entah mengapa terasa lebih banyak dari biasanya.
Aku membuka pintu depan. Sepertinya aku sudah ditunggu.
Entah dengan ancang-ancang atau tidak, seorang wanita memelukku erat, sangat erat. Sampai-sampai luka dibagian punggungku yang sudah hampir sembuh, terasa sakit kembali saat wanita itu mengelus-elusnya sambil samar-samar berkata “Sabar ya! Kamu yang sabar!” ditengah-tengah isakannya. Aku merasa ada yang menetes di dahiku, air mata wanita itu rupanya.

Wanita itu melepas pelukannya, tapi akupun tak melakukan apa-apa selain berdiri di depan wanita yang merupakan tetangga terdekatku tadi. Aku menyapu sekeliling rumah dengan pandanganku, ada banyak sekali warga. Wajah mereka murung, sedih, dan bahkan ada beberapa yang pipinya dibasahi air mata.
Kini jantungku seperti berhenti berdetak. Pikiranku mulai menerka-nerka apa yang kira-kira terjadi pada Ayah. Entah bagaimana mimikku saat ini, aku bahkan tak sempat mengaturnya.
Sejurus kemudian, lewatlah empat orang pria berpakaian putih. Sepertinya para perawat. Mereka membawa… errr… entahlah, aku tak tahu apa nama besi persegi panjang itu, tapi aku tahu diatasnya terdapat seseorang yang seluruh tubuhnya ditutupi selimut. Apakah itu Ayah? Bahkan aku masih bertanya-tanya.
Wanita tadi lalu menuntunku masuk ke dalam ruang tamu rumahku yang saat ini sangat ramai, kontras dengan hatiku yang hampa.
Aku duduk tepat disamping seseorang yang berbaring itu. Pikiranku kosong sesaat, bahkan aku seperti tidak bisa merasakan apa-apa.

Perlahan, wanita tadi membuka selimut yang menutupi wajah… Ayah! Dia benar-benar ayahku! Salah satu korban gempa yang dinyatakan tewas. Wajahnya sangat pucat dan dipenuhi luka-luka mengerikan.
Walaupun aku sudah sempat menerka-nerka, tetap saja berbeda saat aku melihat dengan mata kepalaku sendiri wajah Ayah. Ayahku kini hanya tinggal jasad. Nafasku sepertinya berhenti.
Entah apa yang menjadi pemacu otot-ototku, aku berdiri dan pergi menerobos kerumunan orang-orang yang kutahu pasti merubah pandangannya terhadapku, dari iba, menjadi heran.

Tapi aku tak peduli. Seperti halnya aku tak peduli dengan keadaan tubuhku. Aku tak merasa pincang kali ini, semua luka-luka ditubuhku pun hilang sakitnya. Kurasa, aku mati rasa.
Ah, persetan dengan apa itu yang disebut rasa. Aku terus berlari menuju kamar paling belakang, tempat ibuku berada. Aku tau rumahku memang cukup besar, tapi sepertinya jarak antara ruang tamu dan kamar ibuku tidak sejauh ini. Kali ini jarak kedua ruangan itu, entah mengapa, jauh lebih jauh.

Aku sampai. Lalu masuk kedalam ruangan besar itu. Sambil mengatur nafas, aku berjalan menuju ke salah satu sudut kamar, tempat dimana ibuku duduk lemas disana.
“Ibu…” panggilku pelan sesaat setelah kakiku berhenti melangkah, aku berada kira-kira 1 meter di depan Ibu.
Ibu menatapku kosong.
Kuhela nafas panjang. “Dia sudah pulang,” ucapku kemudian.

Mata Ibu melebar, walau tetap kosong. Wajahnya terangkat. Aku tahu ia sangat terkejut mendengar kabar yang aku berikan. Tampak sedikit kecemasan dari raut wajah pucat pasinya.
“Tanpa nyawa…” aku melanjutkan kalimatku. “Dia… tewas.” Titik. Aku tahu Ibu tak memerlukan penjelasan apa-apa lagi.
Wajah cemas Ibu seketika berubah cerah saat seutas senyum lega menghiasi wajahnya.
Aku pun tersenyum, sama lepasnya dengan senyum Ibu. Senyum yang sudah sangat lama tak nampak diwajahku, ataupun Ibu.
Jujur, aku tidak pernah sebahagia ini. Terlebih bisa melihat wanita yang selama ini menanggung perih yang sangat dalam, akhirnya tersenyum.

Aku menghampiri kursi roda Ibu dan mendoronnya keluar kamar, menuju ruang tamu.
“Gak sia-sia penantian kita, Bu. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kita. Mulai hari ini, hidup kita bebas dari manusia laknat itu,” ucapku pada seorang wanita paruh baya yang cacat dan buta, karena kelakuan setan sang suami.
PROFIL PENULIS
Nama: Risti Kumala Sari
Tempat Tanggal Lahir : Tangerang, 19 September 1991
Facebook: Risti Kumala Sari
Twitter: @rsty_k